Kembang api sudah padam, riuh terompet sudah redam. Sampah berserakan, k*nd*m berceceran. Kalender 11 tahun lalu dipajang kembali dengan sedikit pengubahan pada bagian pewarnaan angka dan catatan kaki di bawahnya.
Selamat tinggal, 2012!
Tahun yang benar-benar menguras kesabaran. Bagi saya, serta teman-teman yang lain tentunya.
Tak ada yang spesial. Sekadar hari demi hari yang bergulir dalam penantian tak pasti, yang bahkan sampai saat ini belum terlihat jelas ujungnya.
Em, sebentar. Ternyata ada satu hal yang layak dicatat tahun lalu : saya akhirnya pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang pintar meski hanya sebentar.
Lengkap sudah petualangan saya. Di kelas 3 SMP dulu saya menjalin hubungan dengan wanita yang bisa dibilang cukup religius. Lalu di kelas 1 SMA dengan wanita yang pandai memasak. Sampai-sampai saat ini dia menjadi juru masak di salah satu restoran di Jogja. Lanjut ke kelas 2 SMA, dengan wanita yang cakap menulis. Kabar terbaru yang saya tau, dia sekarang baru saja lulus kuliah jurusan komunikasi. Yang keempat dan paling lama, dari kelas 3 SMA sampai kuliah tingkat 3, dengan wanita yang putih, cantik, dan berkacamata. Terakhir, awal tahun lalu, dengan wanita yang pintar dalam hal akademik.
Mission accomplished!!
Selamat datang, 2013!
Tahun yang baru. Dan seperti biasa, saya menaruh harapan-harapan baru. Meski tanpa melakukan ritual-ritual seperti orang-orang pada umumnya. Entah itu dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, bebakaran, atau mengetik serangkaian resolusi lalu mem-publish-nya melalui tombol 'tweet'.
Melalui perantara sunyi, aku dengar lirih yang tersembunyi. Melalui perantara temaram, aku tau di mana muasal cahaya bersemayam.
Kamis, 03 Januari 2013
Senin, 31 Desember 2012
Lamunan dari Balik Kaca Jendela
Ijinkan saya memberi prolog dengan sedikit berbagi imajinasi.
Dalam tatanan semesta ini saya sering membayangkan seperti ini : langit sebagai seorang ayah, dan bumi sebagai seorang ibu. Sementara hujan, adalah sekumpulan sperma langit yang berlomba masuk ke rahim bumi.
Ketika sperma-sperma langit itu berhasil masuk ke dalam rahim bumi, ketika itulah 'makhluk-makhluk' baru terlahir. Sebutlah petrichor. Atau tunas tetumbuhan. Atau sajak-sajak para pujangga. Bisa juga lahirnya kembali ingatan pada kenangan masa lalu. Pun lelaguan para seniman musik.
Yang terakhir saya sebut, barangkali itu yang menjadi alasan beberapa teman untuk membuat daftar #10LaguYangDidengarkanKalaHujan, lalu mengajak saya ikut serta. Seru juga, pikir saya. Karena memang sedari dulu saya memiliki playlist khusus untuk menjamu hujan.
Dengan basis wawasan dan kapabilitas bermusik yang masih sangat ecek-ecek serta pertimbangan yang sarat subjektifitas, perkenankan saya turut serta memamerkan mixtape yang saya beri judul Lamunan dari Balik Kaca Jendela ini.
Dalam tatanan semesta ini saya sering membayangkan seperti ini : langit sebagai seorang ayah, dan bumi sebagai seorang ibu. Sementara hujan, adalah sekumpulan sperma langit yang berlomba masuk ke rahim bumi.
Ketika sperma-sperma langit itu berhasil masuk ke dalam rahim bumi, ketika itulah 'makhluk-makhluk' baru terlahir. Sebutlah petrichor. Atau tunas tetumbuhan. Atau sajak-sajak para pujangga. Bisa juga lahirnya kembali ingatan pada kenangan masa lalu. Pun lelaguan para seniman musik.
Yang terakhir saya sebut, barangkali itu yang menjadi alasan beberapa teman untuk membuat daftar #10LaguYangDidengarkanKalaHujan, lalu mengajak saya ikut serta. Seru juga, pikir saya. Karena memang sedari dulu saya memiliki playlist khusus untuk menjamu hujan.
Dengan basis wawasan dan kapabilitas bermusik yang masih sangat ecek-ecek serta pertimbangan yang sarat subjektifitas, perkenankan saya turut serta memamerkan mixtape yang saya beri judul Lamunan dari Balik Kaca Jendela ini.
Jumat, 21 Desember 2012
Lagi-lagi tentang Semeru
Semeru. Semeru. Semeru..
Sepertinya gunung tertinggi di Pulau Jawa ini sedang menjadi bahan pembicaraan yang renyah di mana-mana. Di facebook, di twitter, di blog, di kantor. Semuanya ngomongin Semeru.
Apalagi setelah di tanggal cantik 12-12-12 kemarin film '5cm' mulai tayang di bioskop. Makin ramai. Entah itu yang menilai positif film ini maupun yang negatif. Wajar. Di mana pun, sampai kapan pun, dalam hal apa pun, pasti ada 2 kubu seperti itu.
Selalu ada bayangan setiap kali ada cahaya. Kan gitu.
Saya sendiri malah baru nonton filmnya Minggu malam kemarin. 4 hari setelah premiere. Atau, tepat di tanggal yang sama di mana 43 tahun lalu Soe Hok Gie meninggal di Semeru, 16 Desember.
Mengenai film '5 cm' ini, jika boleh menilai, saya lebih cenderung menyukai film ini. Terlepas dari memang ada beberapa kekurangan atau kesalahan fatal dalam hasil jadi maupun proses pembuatan film ini. Alasan saya sangat subjektif sih sebenarnya, karena memang saya ga tau masalah yang beginian.
Sepertinya gunung tertinggi di Pulau Jawa ini sedang menjadi bahan pembicaraan yang renyah di mana-mana. Di facebook, di twitter, di blog, di kantor. Semuanya ngomongin Semeru.
Apalagi setelah di tanggal cantik 12-12-12 kemarin film '5cm' mulai tayang di bioskop. Makin ramai. Entah itu yang menilai positif film ini maupun yang negatif. Wajar. Di mana pun, sampai kapan pun, dalam hal apa pun, pasti ada 2 kubu seperti itu.
Selalu ada bayangan setiap kali ada cahaya. Kan gitu.
Saya sendiri malah baru nonton filmnya Minggu malam kemarin. 4 hari setelah premiere. Atau, tepat di tanggal yang sama di mana 43 tahun lalu Soe Hok Gie meninggal di Semeru, 16 Desember.
Mengenai film '5 cm' ini, jika boleh menilai, saya lebih cenderung menyukai film ini. Terlepas dari memang ada beberapa kekurangan atau kesalahan fatal dalam hasil jadi maupun proses pembuatan film ini. Alasan saya sangat subjektif sih sebenarnya, karena memang saya ga tau masalah yang beginian.
Senin, 19 November 2012
Marathon Wisata : Goa, Air Terjun, Pantai
Sudah hari Senin. Long weekend sudah berakhir. Itu artinya, sudah boleh saya sedikit memamerkan oleh-oleh selama long weekend kemarin. Ga pantas disebut memamerkan sih sebenarnya, karena memang ga ada yang spesial amat.
Kamis, touring. Jumat, ngulet di kamar seharian. Sabtu, lembur (dan numpang ngenet gratis di kantor). Minggu, resepsi lalu Ngayogjazz (meskipun batal di tengah jalan karena hujan lebat yang sangat tumben).
Baiklah, mari saya mulai.
Hari Kamis.
Saya bersama 4 orang teman —Huda, Zulham, Fauzi, dan Ichwan— awalnya kebingungan menentukan tujuan. Sempat memilih tujuan ke Rawa Pening, lalu berubah pikiran ke Kopeng dan Candi Borobudur, lalu berubah lagi ke Goa Pindul, sampai akhirnya kami memutuskan ketiga objek ini : Goa Rancang, Air Terjun Sri Gethuk, dan Pantai Pok Tunggal. Marathon wisata.
Kamis, touring. Jumat, ngulet di kamar seharian. Sabtu, lembur (dan numpang ngenet gratis di kantor). Minggu, resepsi lalu Ngayogjazz (meskipun batal di tengah jalan karena hujan lebat yang sangat tumben).
Baiklah, mari saya mulai.
Hari Kamis.
Saya bersama 4 orang teman —Huda, Zulham, Fauzi, dan Ichwan— awalnya kebingungan menentukan tujuan. Sempat memilih tujuan ke Rawa Pening, lalu berubah pikiran ke Kopeng dan Candi Borobudur, lalu berubah lagi ke Goa Pindul, sampai akhirnya kami memutuskan ketiga objek ini : Goa Rancang, Air Terjun Sri Gethuk, dan Pantai Pok Tunggal. Marathon wisata.
Rabu, 14 November 2012
'Wang Sinawang'
Ahad lalu, tepatnya pukul 5 sore, tampaknya menjadi hari bersejarah bagi beberapa teman seperbuangan seperjuangan saya di STAN 08 yang ditempatkan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Instansi tempat mereka akan bekerja itu mengumumkan penempatan definitif. Lengkap, dari Aceh hingga Papua, semua ada. Kecuali untuk kantor pusat dan kantor perwakilan di Pulau Jawa.
Ya, betul. Saya ga salah mengetik kalimat pengecualian ini. Ga ada yang ditempatkan di kantor pusat dan kantor perwakilan di Pulau Jawa. Sadis!
Teman-teman dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) malah sudah mendahului 2 hari sebelumnya, pada hari Jumat. Tapi untuk penempatan definitif instansi ini saya ga cukup tau di mana saja mereka ditempatkan karena memang sepertinya pengumumannya ga di-share ke publik.
Iri? Jelas. Kami masuk kuliah bareng. Lulus kuliah juga bareng. Tapi setelah terpisah dalam beberapa instansi, jalan kami tak lagi beriringan. BPK gini, BPKP gitu, Kementerian Keuangan lain lagi.
Dan kami yang kebetulan berada di bawah Kementerian Keuangan, seringkali berjalan di rombongan belakang. Tertinggal beberapa langkah dari BPK ataupun BPKP.
Bahkan di saat kedua instansi itu sudah mengumumkan penempatan definitif, kami mendapat kepastian resmi mengenai TMT pun belum, baru sekadar 'katanya'.
Saat yg tepat untuk menyelipkan 'pfffft' dan emoticon ':|'di tulisan ini. Pffft :|
Ya, betul. Saya ga salah mengetik kalimat pengecualian ini. Ga ada yang ditempatkan di kantor pusat dan kantor perwakilan di Pulau Jawa. Sadis!
Teman-teman dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) malah sudah mendahului 2 hari sebelumnya, pada hari Jumat. Tapi untuk penempatan definitif instansi ini saya ga cukup tau di mana saja mereka ditempatkan karena memang sepertinya pengumumannya ga di-share ke publik.
Iri? Jelas. Kami masuk kuliah bareng. Lulus kuliah juga bareng. Tapi setelah terpisah dalam beberapa instansi, jalan kami tak lagi beriringan. BPK gini, BPKP gitu, Kementerian Keuangan lain lagi.
Dan kami yang kebetulan berada di bawah Kementerian Keuangan, seringkali berjalan di rombongan belakang. Tertinggal beberapa langkah dari BPK ataupun BPKP.
Bahkan di saat kedua instansi itu sudah mengumumkan penempatan definitif, kami mendapat kepastian resmi mengenai TMT pun belum, baru sekadar 'katanya'.
Saat yg tepat untuk menyelipkan 'pfffft' dan emoticon ':|'di tulisan ini. Pffft :|
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)